Rabu, 08 Agustus 2012

TEMPO.CO, Beijing - Larangan itu kembali terulang. Seperti tahun-tahun sebelumnya, warga muslim Uighur di Provinsi Xinjiang, barat laut Cina, dipersulit untuk berpuasa pada bulan suci Ramadan. Larangan berpuasa bagi pegawai pemerintah dan siswa sekolah itu diungkapkan Pemerintah Kota Zonglang di Distrik Kashgar pada awal Agustus ini.
»Kader Partai Komunis, pegawai pemerintah (termasuk pensiunan), dan siswa sekolah dilarang melakukan ibadah Ramadan,” demikian pernyataan tersebut, seperti dilansir kantor berita Xinhua, Rabu lalu. Kebijakan ini, menurut pemerintah, sebagai upaya menegakkan stabilitas di kawasan rawan konflik sektarian tersebut.
Muslim sedang berdoa di masjid Aksu, Xinjiang Uighur Autonomous, pada 3 Agustus 2012. REUTERS/Stringer
Pemerintah bahkan mengutus petinggi partai di kawasan itu untuk memberikan hadiah makanan kepada pemimpin desa. Langkah ini untuk memastikan para kepala desa tidak berpuasa pada bulan Ramadan.
Pemerintah daerah lain di Xinjiang juga mendesak pihak sekolah untuk melarang siswa mengunjungi masjid kala Ramadan. Kisah tragis soal puasa di Xinjiang memang dihadapi siswa di semua tingkatan. Tahun lalu, para dosen di sebuah kampus ilmu pendidikan di Kota Kashgar memaksa mahasiswanya makan siang saat Ramadan.
Saat Idul Fitri tiba, seluruh kafe dan restoran di kampus justru ditutup. Yang sangat menyedihkan, para mahasiswa dikunci di dalam kampus dan tak bisa merayakan akhir Ramadan bersama keluarga masing-masing. »Ini sangat menyakitkan kami,” tutur seorang mahasiswa berusia 20 tahun.
Kebijakan tak masuk akal lainnya dibebankan kepada para pemilik restoran. Untuk memaksa warga Uighur santap siang pada hari Ramadan, Partai Komunis di kawasan Xinjiang memaksa semua restoran tetap buka. Jika ketahuan tutup, pemilik restoran akan didenda hingga US$ 780 atau setara Rp 7,4 juta.
Akibatnya, seluruh restoran terpaksa tetap buka pada hari Ramadan meski tak ada pelanggan yang datang. »Mereka tak ingin mendapat masalah,” ucap seorang dokter muda yang menolak disebut namanya. Sebuah kompromi pun dilakukan di salah satu restoran. »Kokinya memasak satu menu meski ia tak mencicipi saat membuatnya,” ujar sang dokter.
Kebijakan saat Ramadan di Xinjiang terasa semakin menyesakkan setiap tahun. ”Ini sudah berlangsung sejak 1993, dan terus memburuk,” tutur Tursun Ghupur, penduduk Kashgar yang kini menetap di Beijing. »Warga biasa memang masih bisa menikmati ibadah puasa saat Ramadan, tapi bagi pegawai negeri dan siswa, ini adalah neraka.”
Kebijakan ini tentu menimbulkan perlawanan dari masyarakat muslim Uighur. »Larangan ini hanya menambah bahan bakar penduduk Uighur untuk menentang pemerintah Cina lebih keras lagi,” ujar Dilshat Rexit, juru bicara Kongres Dunia Uighur.
Kawasan Xinjiang merupakan rumah bagi sembilan juta etnis muslim Uighur. Namun populasi penduduk muslim di Xinjiang semakin terdesak oleh kedatangan suku Han, etnis mayoritas Cina. Kondisi rawan konflik ini semakin diperparah oleh kebijakan pemerintahan Cina yang membatasi kebebasan beragama warga muslim Uighur.
Konflik berdarah pun pecah pada Juli 2009. Warga Uighur dilaporkan menyerang warga Han di Kota Urumqi. Warga Han yang tak terima pun membalas. Akibat insiden ini, 200 warga tewas dan 1.700 lainnya terluka, sebagian besar korban berasal dari etnis Uighur.
Para analis menilai kebijakan ini diambil karena Xinjiang merupakan aset yang sangat berharga. Posisinya yang strategis di Asia Tengah berpadu dengan kekayaan alam berupa minyak dan gas yang berlimpah. Walhasil, Cina yang dikuasai penduduk Han berupaya merebut kawasan ini. Jika pada 1940 jumlah penduduk Han hanya 5 persen, kini jumlah mereka mencapai 40 persen.

Masakan ini sangat praktis dan mengandung protein nabati yang tinggi. Selain bergizi, tumis tahu tauco juga lezat. Aroma khas dari tauco terasa pas dengan tekstur tahu yang lembut dan buncis muda yang crunchy. Cocok sebagai hidangan santap sahur.
Selain praktis dan mengandung protein tinggi, tumis tahu tauco juga lezat. (Budi Sutomo)
Tumis Tahu Tauco

Bahan:

200 g tahu putih, potong dadu
100 g buncis, potong serong
100 ml air/kaldu ayam
1 sendok sayur minyak goreng

Bumbu:

5 butir bawang merah, iris halus
4 siung bawang putih, cincang kasar
3 cm lengkuas, memarkan
2 sdm tauco
2 sdm saus tiram
1 sdt gula pasir
1 sdt garam halus
¼ sdt vetsin bumbu penyedap (jika suka)

Cara Membuat:

1. Panaskan minyak, tumis bawang merah, bawang putih dan lengkuas hingga harum. Masukkan potongan tahu, aduk hingga tahu berubah warna.
2. Tuang air/kaldu ayam, tauco, saus tiram, gula pasir, garam dan vetsin. Masak hingga air mendidih. Tambahkan buncis, masak kembali hingga semua bahan matang. Angkat.
3. Tuang tumisan ke dalam pinggan saji. Hidangkan hangat.

Untuk 5 Porsi

Tip: Tahu bisa diganti dengan tempe. Jika Anda menyukai citarasa pedas, tambahkan irisan tiga buah cabe merah atau cabai hijau saat menumis bumbu.

Apa menu sahur Anda nanti? Bagikan fotonya pada grup Flickr kami di halaman ini.

TEMPO.CO , Jakarta: Buah kurma memang menjadi makanan pembuka puasa yang dianjurkan Nabi Muhammad SAW. Buah berwarna cokelat itu mengandung karbohidrat kompleks yang dapat memulihkan kondisi fisik yang lemas setelah berpuasa. Maka tak heran pada Ramadan ini buah berasa manis tersebut banyak diburu untuk dikonsumsi.
Satu di antaranya adalah Rini yang sengaja mampir ke Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Menurut Rini, kurma itu akan disajikannya pada keluarga untuk berbuka puasa. "Kan sunah," katanya, Ahad 5 Agustus 2012.
Tak hanya Rini. May yang datang dari Cilangkap, Jakarta Timur, juga menyempatkan diri mampir ke kios pedagang kurma di depan Blok B Pasar Tanah Abang. May memilih membeli kurma yang dilapisi cokelat untuk anaknya. "Kepengin aja," ujar dia.
Di Tanah Abang para pedagang memang menjual berbagai jenis kurma, dari kurma murni yang berasal dari Madinah, Mekkah, California, hingga kurma yang dilapisi cokelat. Harganya pun bervariasi, mulai dari Rp 35 ribu per kilo untuk kurma Madinah, sampai Rp 350 ribu per kilo untuk kurma nabi.
Riki Saputra, pedagang kurma di Pasar Tanah Abang, mengakui jika permintaan kurma di bulan puasa meningkat. Riki mengatakan pada hari-hari biasa dia hanya mendapat omzet sekitar Rp 1 juta. Selama bulan puasa omzetnya meningkat hingga 10 kali lipat. "Sehari sekitar Rp 10 juta," ujarnya.
Namun, menurut dia, perolehan tersebut masih kalah jauh dibandingkan dengan saat musim haji tiba. Di bulan itu permintaan kurma bisa melonjak hingga 25 kali lipat. "Kalau musim haji, omzetnya bisa Rp 25 juta sampai Rp 30 juta," katanya.

Saat sedang khotbah Jumat, seandainya kita tidak sepaham dengan pendapat sang imam, bolehkah kita menginterupsi dan mengutarakan pendapat kita? Atau ada forum lain yang bisa mengakomodasi itu?
(Januar, Jakarta)

Apabila khatib telah naik mimbar, maka seluruh otoritas forum itu milik khatib. Artinya, hanya khatib yang punya wewenang untuk berbicara.
Salat Jumat. (TEMPO.CO/Illustrasi)
Seorang khatib bukan hanya sekedar menyampaikan khotbah, bahkan dia boleh menegur jamaah Jumat yang mengobrol atau melakukan kesalahan dalam beribadah. Hal ini pernah dilakukan Rasulullah SAW ketika beliau menegur seorang sahabat yang masuk masjid langsung duduk tanpa salat sunah terlebih dahulu. Rasulullah menegurnya dengan, “Qum far ka’ rak’ataini!” (Berdirilah, lakukan salat sunah dua rakaat!). Jadi khatib boleh menegur saat ia sedang berkhotbah.

Sebaliknya apabila kita menjadi jamaah Jumat, maka tidak diperkenankan berbicara walau niatnya menegur orang yang mengobrol. Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang berbicara kepada temannya pada saat khatib berkhotbah, 'Ssst,  jangan mengobrol!' maka sungguh orang itu telah rusak pahala Jumatnya”.  (HR. Bukhari dan Muslim).

Bagaimana kalau jamaah Jumat bertanya atau menginterupsi imam? Hal ini diperbolehkan, dengan merujuk pada kasus seorang sahabat bernama Abu Rifaah R.A. yang menginterupsi khotbah rasul karena dia menanyakan sesuatu yang tidak difahaminya. (Lihat  Shahih Bukhari No. 6167, Shahih Muslim No. 876 dan Nasai Jilid 8 No. 220). 

Punya pertanyaan mengenai Islam? Tanyakan langsung pada Ustaz Aam di halaman ini.